Pada hari ini tepat 49 tahun yang lalu di sebuah desa kecil terpencil disudut selatan kabupaten Malang, dilahirkan seorang bocah, anak kelima dari sembilan bersaudara. Dibesarkan dan diasuh oleh keluarga petani. Kehidupan yang sangat sederhana dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang serba terbatas, listrik pun masih belum ada kala itu. Animo masyarakat yang sangat rendah terhadap dunia pendidikan. Wajar saja mungkin saat itu sarana yang tersedia hanya sampai sekolah dasar, sehingga untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi harus keluar dari desa, jarak yang harus ditempuh tidak pendek, kurang lebih sekitar 50 km. Tentunya itu membutuhkan semangat yang besar selain biaya pastinya. Namun keadaan itu tak membuat patah semangat sang pemuda. Setiap hari rintangan itu ditempuh dengan berjalan kaki, melewati lembah, menyusuri sungai, berangkat dari rumah setelah shubuh ketika fajar masih memerah, yah jam 5 pagi kurang lebih.
Dia dikenal sebagai siswa yang pandai jadi sayang sekali kalo tidak meneruskan sekolah. Dengan mata pencaharian mutlak sebagai petani, orang tua pemuda itu hanya bisa sedikit mensupport dana untuk keperluan sekolah, karena masih ada delapan anak lainnya yang masih butuh banyak dana untuk kebutuhan hidup. Untung saja pemuda pandai itu selalu mendapat beasiswa dari sekolah sehingga untuk masalah biaya pendidikan bisa dikurangi. Dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menegah atas, pemuda itu hampir tidak pernah kehilangan beasiswa. Bahkan sampai menempuh gelar master pun beberapa bulan yang lalu dari salah satu universitas terbaik Indonesia didapatkannya dengan beasiswa, kecuali untuk studi sarjana yang menggunakan sebagian gajinya sendiri untuk biaya kuliah.
Mungkin saat ini sangat jarang ditemukan pemuda-pemuda seperti itu, semangat untuk menuntut ilmu sudah berkurang atau hampir tidak ada, terlalu pasrah dengan keadaan tanpa memikirkan masa depannya, keluarganya, bangsa dan negara. Untuk berangkat sekolah dengan jarak yang sangat dekat pun malas, padahal sudah banyak sarana transportasi yang mendukung. Masih juga banyak yang bolos, padahal bayar sekolah tetap semakin mahal.
Salut untuk sang pemuda itu yang tak lain beliau sekarang telah menjadi seorang pengajar, konseptor sekaligus puncak pembuat keputusan pada salah satu akademi swasta yang bergerak di bidang kesehatan. Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, terima kasih atas kesabaranmu selama ini dalam mendidik dan membesarkan aku.
* dedicated for my father
Semoga mendapat umur panjang yang barokah, dilapangkan rejekinya, dimudahkan segala urusannya, semakin disayang dan sayang ma keluarga, selalu mendapat hidayah dan petunjuk dari-Nya, selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk mengabdi pada agama, keluarga, bangsa dan negara. Meskipun ga pernah terucap langsung padamu, tapi lewat tulisan ini semoga engkau tau apa yang ada dalam benakku.
Anak yang baik adalah anak yang bisa meneruskan cita-cita Ayah tentunya. Tetap terus untuk menjalankan amanahnya.




He is tHe bEsT mAn
nOt aLL tHe mAn LikE hiS
‘n nOtHing my bOy fRiEnds LikE His tOO ;>