Sebagian besar orang menilai sesuatu dari hasil akhir yang didapatkan. Mereka akan melupakan semua proses yang telah dijalani ketika hasil tidak sesuai harapan. Padahal boleh jadi dari proses tersebut-lah terdapat pelajaran penting yang jauh lebih bernilai dibandingkan sebuah hasil akhir. Dan pastinya semua itu ada hikmahnya, tetapi sedikit manusia yang bisa mengambil manfaatnya.
Suatu saat ada teman yang bercerita bahwa dia selalu gagal mengikuti seleksi calon pegawai perusahaan. Seringkali ia harus mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya utk mengikuti tahapan seleksi. Terlebih jika sudah melewati beberapa tahap hingga akhir namun tetap saja gagal. Masih saja bingung atas kesalahan atau kekurangan yang menyebabkannya belum berhasil.
Prasangka tidak baik yang dibisikkan oleh syaitan mulai memenuhi pikirannya. Para pesaing lainnya bisa lulus meski bila dilihat dari skill dan spesifikasi tidak jauh lebih baik dari dirinya. Ataukah ada dalang di balik layar yang sengaja memuluskan jalan beberapa tokoh/pemeran yang masih kerabat si dalang, atau mungkin memiliki vvip member card sehingga bisa menggeser tokoh lainnya dengan cara yang kurang beretika.
Perlahan tapi pasti dia mulai belajar untuk menikmati proses tanpa berharap bagaimana hasil akhirnya. Bukan berarti menjadi tidak maksimal dalam menjalani proses tersebut, melainkan sebaliknya. Dengan sikap seperti itu maka banyak hal positif yang bisa diambil, paling tidak beban pikiran akan lebih ringan, tidak menyebabkan stress berkepanjangan bila terus-terusan gagal.
Apabila hasil akhir merupakan prioritas, maka bukan tidak mungkin bisa menghalalkan segala cara, meski paham dan mengerti secara mutlak bahwa proses yang dilakukan itu adalah haram. Naudzubillah mindzalik…
Dibalik semua itu hasil terbaik pasti akan didapatkan oleh orang-orang baik, mungkin bukan dalam waktu dekat ini, bisa besok, lusa, sebulan lagi, atau sepuluh tahun lagi. Tapi yakinlah dibalik kesusahan pasti ada kemudahan. Fa-inna ma’a al’usri yusraan, Inna ma’a al’usri yusraan, Fa-idzaa faraghta fainshab, Wa-ilaa rabbika fairghab (QS.94:5-8)
Intermezo :
Seperti ketika ber-gowes melewati tanjakan, jikalau terus memikirkan kapan bisa sampai ujung padahal itu terlihat masih sangat jauh, jadinya malah bikin emosi yang bisa mempengaruhi semangat kita untuk turun dan menuntun sepeda. Meski berujung pada tujuan yang sama tapi dengan proses yang berbeda tentunya sensasi yang didapat juga berbeda. Dengan menikmati setiap proses yang berjalan maka akan lebih nikmat rasanya, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit pedal dikayuh, pasti akan sampai juga di tujuan. Dan betapa indah rasanya ketika berhasil menaklukan tanjakan itu. Otot paha yang sudah mengeras, keringat bercucuran, kulit gosong karna sinar matahari seakan hilang tertimpa kepuasan batin





Comments